Nikmatnya Nasi Timbel Merah dengan Sambal Terasi dan Ulukuteug

Untuk orang Sunda, nasi timbel bukan barang yang aneh. Nasi timbel merupakan nasi yang di bungkus di dalam daun pisang. Bisa dari beras putih ataupun dari beras merah campur beras putih. Pembuatannya juga tidaklah sulit, nasi yang sudah matang dikipas, dimasukan ke dalam daun pisang dengan porsi tertentu, kemudian digulung, dikukus lagi dan selesailah kemudian dihidangkan. Biasanya nasi timbel disajikan dengan ayam, ikan, atau daging goreng, tahu, tempe goreng, ikan asin, sayur asem dan tentunya sambal terasi.

Nah, kali ini nasi timbelnya agak mirip-mirip, tapi tetap berbeda. Namanya nasi timbel Ibu Oneng [seperti tokoh sinetron TV aja]. Lokasinya terletak di jl. Citarum, seputaran mesjid Istiqomah dekat SMU Negeri 20 Bandung. Warungnya tendaan sih, tapi cukup bersih kok.

Tentu saja makanannya yang menjadi favorit bagi saya. Selain timbel nasi putih, di sini juga tersedia timbel nasi merah. Bentuknya tidak lonjong seperti silinder pada umumnya, bentuknya seperti bulatan/kepalan, ukurannya pun cukup sekitar satu kepal orang dewasa. Nasinya padat, dan mengenyangkan.

Di warung Bu Oneng ini, tersedia berbagai lauk, mulai dari ikan mas, mujaer, bawal, daging ayam, jeroan sapi, sate usus dan ati ampela, aneka pepes ikan, usus, ayam dan tahu, tentu saja tidak ketinggalan tahu dan tempe goreng. Sambalnya hanya tersedia dua macam saja: sambal cabai merah terasi dan Ulukuteug [bener tidak ya cara menulisnya]. Yang membedakan dari tempat nasi timbel lainnya adalah sambal terasi di sini agak encer dan agak manis. Tidak terlalu pedas. Sambal ulukuteug: sambal yang terbuat dari oncom yang dicampur dengan leunca [sebangsa terong-terongan ukuran lebih kecil sedikit dari kelereng dan terasa agak pahit]. Kedua sambal ini disajikan bersama dalam menu masakan.

Yang menjadi favorit saya setiapmakan di tempat ini adalah nasi merah timbel, lauknya ikan mas goreng atau pepes ikan mas yang dipanaskan dengan digoreng sebentar, ditambah dua buah tahu goreng. Saya suka ikan mas,karena rasa dagingnya yang gurih dan enak, ditambah campuran dua sambal yang karakternya berbeda dicampur dengan nasih merah, dilidah betul-betul merupakan campuran yang nikmat.

Untuk harga, tidaklah terlalu mahal, nasi timbel dengan ikan mas goreng dan dua buah tahu plus lalapan dan teh tawar panas, anda cukup mengeluarkan uang sebersar Rp. 9000 saja.

Di tempat ini anda tidak perlu kuatir mengantri, karena walaupun cukup ramai, tetap mudah dan cepat untuk bisa dilayani. Yang perlu diperhatikan mereka cepat habis karena lebih banyak dari pesanan. Misalnya sekali pesan 50 porsi.

Pagi hari di warung ini biasanya kang Ayeng Samsudin melayani kita dengan tiga orang karyawannya,sedangkan ibu Oneng biasanya datang sekitar jam 8 atau 9. Warung ini buka dari jam 07.00 sampai jam 15.00, sering juga sebelum jam tersebut sudah habis.

Mari, silahkan mencoba, kaki lima warung tenda, warung nasi timbel Ibu Oneng…..

Bubur Ayam Handayani ~ Setiabudi Bandung

MAs Gunawan

Ada syarat bubur ayam layak dikatakan enak [in my humble opinion ya]: panas, terasa kaldu ayamnya, tidak terlalu kental, mungkin agak encer, tapi tidak terlalu encer juga, dan topping yang pas serta melimpah ruah.
Nah di Bandung, kota tanah air beta, ada banyak bubur yang memenuhi syarat yang saya sebutkan tadi. Salah satunya Bubur Ayam Handayani, letaknya di Jl. Setiabudi, dari Setiabudi Supermarket, kebawah sedikit, di depan Sosis Jerman Bratwurst. Saya cukup sering makan di tempat ini, terutama kalau hari kerja, sekalian ke kantor yang berada di sekitar TKP. Dulu, tempat ini tidak terlalu ramai, sekarang wah, ramai sekali, kadang-kadang sampai antri. Jangan kuatir, pelayanan mas Gunawan [onwner, sekaligus yang melayani] sangat baik, cepat dan sangat bisa dihandalkan. Sesuai dengan namanya Handayani, berarti “memberikan dorongan/kekuatan” apa diambil dari Tut Wuri Handayani ya mas Gunawan? Atau bisa juga berarti”Handal Dalam Melayani”. Mas Gunawan yang katanya asli Wonosari, Gunung Kidul, Jogja ini melayani pelanggannya dibantu sang istri dan dua orang lainnya. Selain berjualan bubur dia juga bekerja sebagai sekuriti dan pembantu umu di klinik sebelah Sosis Jerman Bratwurst berada.
Untuk buburnya, ini yang paling penting. Bagi saya bubur di tempat ini panasnya mantap, sehingga disantap di pagi hari yang dingin seperti di Bandung ini sangat cocok. Yang tidak kalah penting adalah toppingnya. Sekilas topping buburnya mirip dengan di tempat lain, yang membedakan banyaknya. Ayam suwir, merica bubuk, cakue, kacang kedele goreng, irisan telur, bawang dan kelapa goreng, irisan daun bawang dan yang menarik ada tambahan dua buah sate jeroan ayam yang sudah direbus dengan bumbu. Kemudian bubur beserta toppingnya ini disajikan bersama dengan semangkuk kerupuk, dan air teh tawar panas. Nikmat sekali, apalagi saya menyukai pedas, sambalnya di sini super pedas dan menambah aroma, saya pikir sambalnya juga dimasak pakai bumbu bawang merah dan bawang putih. Saya biasanya memesan bubur tanpa kecap manis, cukup kecap asin saja tentunya plus topping dan sambal super pedasnya. Bagi saya bubur ini salah bubur ala tradisonal tempo dulu yang menjadi favorit saya.

Silahkan mencoba, selamat menikmati suasanya pagi, di pinggir jalan turunan Setiabudi, diantara deru motor dan mobil aktifitas pagi hari. Di antara antrian dan ramainya pembeli. Suasana kuliner kaki lima pagi ala Bandung. Suasana khas yang berbeda dengan kota lainnya. Pesan saya, hati-hati biasanya sebelum jam 09.00 bubur sudah habis alias tutup.

Angkringan Lik Man – Menyeruput Kopi Joss yang melegenda

Angkringan, ini yang harus anda coba kalau anda pergi ke Jogja. Angkringan ini tempat bincang santai berbagai kalangan, diamana batasan itu menjadi hilang. Di Jogja, mencari angkringan tidaklah sulit. Di gang-gang, sudut jalan akan selalu ditemukan angkringan. Biasanya kalau di angkringan bisa ngobrol sampai puas, sampai menuju ambang pagi.

Nah, salah satu angkringan jajaran topnya di Jogja, angkringan Lik Man di utara Stasiun Tugu Jogja. Mencapainya, mudah, kalau anda dari Malioboro, jalan terus ke utara, lewati rel kereta api, lewati gerbang stasiun Tugu, lalu ada jalan sebelah kiri, belok, pas dibelokan itu ada angkring Lik Man ini. Konon ceritanya, angkringan Lik Man ini berdiri sejak tahun 1968. Angkringan Lik Man memang sesuai namanya menggunakan angkringan [pikulan bamboo yang melengkung] dengan dua kotak di kanan dan kirinya. Biasanya sudah mulai jualan dari jam 15.00 sampai pagi, katanya sih begitu. Kalau kita lihat warungnya sangat sederhana, bersahaja…  dulu saya tidak menyangka kalau ini tempat yang melegenda.

Nah diangkringan ini Lik Man duduk di tengah, Sementara di kiri – kanannya ada tumpukan makanan dan anglo dengan bara arang. Menunya: sego kucing, nasi sekepal, berlauk sambal dengan secuil bandeng goreng, oseng tempe, atau bihun. Tempe mendoan. Tahu dan tahu bacem. Sate usus. Sate kikil. Cakar. Dan lainnya. Yang menarik di sini minumannya. Selain teh “nasgithel” [bukan wasgithel] panas, legit, kenthel, ada kopi yang disebut “Kopi Joss”. Ini tidak ada hubungannya dengan minuman kesehatan itu ya. Kopi Joss itu kopi tubruk panas, lalu di cemplungi potongan arang yang membara, bunyinya joss….   Jadi dinamakan Kopi Joss.

Dulu sewaktu masih sering main ke Jogja, hampir tiap malam saya pasti mampir ke angkringan Lik Man ini. Dengan teman-teman staff di Jogja, makan bareng, “rame-rame”. Makan di angkringan kita tidak perlu takut kehabisan uang. Saya beberapa kali makan bersama teman-teman staff di Jogja, sekitar sepuluh orang, dan tidak pernah menghabiskan lebih dari Rp. 50000. Ada yang bilang angkringan Lik Man ini salah satu legenda kuliner-nya Jogja…..  Jika anda sempat mapir, anda bisa makan di kursi depan dan samping Lik Man duduk, atau menggunakan tikar duduk bersila di pinggir jalan, makan gelap-gelapan, mobil dan motor seliweran, suasananya Jogja… yang tidak bisa ditemukan di tempat lain….  [kok mendadak inget lagu Kla, Yogyakarta ya….]

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila

Spaghetti Ayam Jamur

Spaghetti Ayam Jamur

Sebenarnya ini adalah resep mie ayam campur ala Chinese. Sulitnya mendapatkan mie kering atau mie basah yang memiliki tekstur seperti mie tarik atau banting ala “hand made” seperti mie telor Chinese asli, membuat saya mencoba campuran topping-nya dengan spaghetti.

Spaghetti pada dasarnya sama dengan mie. Kenyal, jika direbus agak lama, juga mengembang, tapi bagusnya tidak hancur. Kenyal, tapi empuk. Menurut saya ini benar-benar mirip dengan tekstur mie tarik / banting “hand made”.

Topping ayam jamurnya juga, menurut saya agak berbeda, tapi cirinya benar-benar ala Chinese. Kalau di Bandung atau di beberapa kota yang pernaha saya singgahi, mie ayam jamur ini ditabur topping ayam saja yang sudah dibumbu. Kebanyakan ayamnya dengan tipikal kering, asin dan gurih. Sedangkan di resep ini saya mencobanya sedikit berkuah, ditambah jamur kancing [champignon], asin, dan sedikit manis. Mungkin anda berpikir, jangan-jangan mirip dengan mie ayam ala “Jawa”. Saya informasikan tidak, ini sangat berbeda.

Kali ini, saya tidak membuat fotonya. Yang pasti saya sudah mencobanya. Kedua anak saya sangat suka, dan meerka yang mengambil peran paling besar dalam melenyapkan masakan ini.

Begini resepnya:

Bahan:

  • 1 liter air atau secukupnya untuk merebus spaghetti diberi garam sedikit.
  • ½ bungkus spaghetti kalau mau banyak ya 1 bungkus, saya biasanya pakai merek La Fonte.

 

Kuah:

  • 500 ml kaldu ayam [rebusan daging ayam]
  • 1 sdm minyak wijen
  • 2 siung bawang putih haluskan.
  • 1 sdt garam
  • ¼ sdt merica
  • Kaldu ayam instant secukupnya.

 

Topping Ayam Jamur:

  • 3 sdm minyak goreng untuk menumis.
  • 2 sdm minyak wijen
  • 500 – 600 gr ayam, lalu dipotong dadu kecil, tulang direbus untuk kaldu.
  • 7 siung bawang putting dihaluskan
  • 5 butir bawang merah dihaluskan juga
  • Daun bawang 3 batang diiris
  • 200 ml atau segelas biasa air
  • Jahe ½ ruas jari diiris tipis, atau diambil airnya.
  • 1 sdm kecap ikan
  • 1 sdt gula pasir
  • 2 sdm saus tiram
  • 1 sdm kecap manis
  • Garam secukupnya
  • ½ sdt merica bubuk
  • Jamur merang atau kancing diiris.
  • Kaldu instant.

 

Cara membuat:

  • Didihkan air, rebus spaghetti selama kurang lebih 15 menit. Angkat, sisihkan.
  • Untuk kuah, didihkan kaldu ayam, masukan semua bumbu untuk kuah, aduk rata, angkat dan sisihkan.
  • Topping ayam jamur: panaskan minyak goring dicampur dengan minyak wijen. Tumis bawang merah dan daun bawang,  sampai agak layu. Masukan bawang putih aduk sampai harum. Masukan irisan dadu ayam, masak sampai warnanya berubah. Setelah itu tambahkan jahe/air jahe, saus tiram, kecap manis, kecap ikan, garam, gula, merica dan kaldu instant. Aduk rata, masukan jamur iris, aduk rata sampai matang. Angkat lalu sisihkan.
  • Penyajiannya: Letakan spaghetti dalam mangkuk atau piring, tuang kuah kaldu panas-panas, lalu berikan topping ayam jamur diatasnya.

Sayur Daun Pepaya [Manado]

sayur daun pepaya yang siap di santap

Sebenarnya masakan ini aslinya Garo Bunga Pepaya dari Manado. Karena di Jawa, agak sulit untuk mendapatkan bunga pepaya jadilah masakan ini divariasikan macam-macam oleh orang-orang Manado yang tinggal di Jawa. Seperti dalam resep kali ini, saya mencoba membuatnya dengan mencampurkan dengan daun singkong, biasanya dengan kangkung. Untuk campuran daging atau ikan, biasanya kalau orang Manado menggunakan daging babi yang ada bagian lemaknya [samcan] sebagai campuran atau daging ikan tongkol atau cakalang asap, tapi kali ini saya menggunakan tongkol pindang saja. Pertimbangannya mudah didapat dan daging tongkolnya sudah berasa bumbu, jadi kalau dimasak pasti lebih nikmat.

Untuk menhuilangkan rasa pahitnya, saya merebusnya dengan mencampur daun jambu kelutuk/batu, selain itu direbus dengan daun singkong juga membuat rasa pahit berkurang banyak.

Resep ini sudah divariasikan, mungkin  juga agak mirip, tapi yang pasti rasanya sangat lezat.

Bahan:

  • Daun pepaya 2 ikat [beli di pasar dalam bentuk ikatan]
  • daun singkong 3 ikat [beli di pasar dalam bentuk ikatan]
  • Daun kemangi 2 ikat [beli di pasar dalam bentuk ikatan dan diiris kasar]
  • Pindang tongkol 1/4 kg
  • Bawang merah 10 siung [2 siung di iris halus, 8 siung dihaluskan dengan bumbu lain]
  • Bawang putih 10 siung [2 siung di iris halus, 8 siung dihaluskan dengan bumbu lain]
  • Cabe rawit merah 10  buah [tergantung selera, ingat ini cabe rawit merah ya]
  • Kunyit kurang lebih 2,5 cm
  • Sereh 2 buah [dimemarkan]
  •  Daun jeruk 10 buah
  • Daun bawang 5 batang [ 3 diiris kecil, 2 dihaluskan dengan bumbu lain]
  • Garam secukupnya
  • Gula secukupnya
  • Minyak goreng secukupnya
  • Bumbu kaldu penyedap

Bumbu dihaluskan: Haluskan bumbu cabe, bawang merah, bawang putih, 2 batang daun bawang, sedikit garam supaya tidak pahit, dan kunyit. Saya biasanya menggunakan blender supaya praktis saja.

Cara Membuat:

  1. Cuci dan rebus daun jambu batu, daun pepaya dan daun singkong, jangan terlalu lembek, tapi juga jangan sampai masih keras. Kalau sudah pas, angkat buang daun jambu batunya, peras sedikit, lalu diiris kasar lalu pisahkan.
  2. Goreng pindang tongkol sampai 1/2 matang, lalu potong atau disuwir asal.
  3. Tumis irisan bawang merah, bawang putih dan daun bawang, sereh dengan minyak goreng secukupnya, sampai harum.
  4. Masukan bumbu yang sudah dihaluskan ke dalam tumisan tadi, masak sampai harum.
  5. Masukan daun jeruk, dan suwiran pindang tongkol dan aduk sebentar.
  6. Masukan garam, gula dan bumbu kaldu secukupnya, aduk sebentar.
  7. Masukan irisan daun pepaya dan singkong.
  8. Tumis kalau sudah matang angkat dan siap untuk disantap.

Dengan dihaluskan bumbu ditambah dengan pindang tongkol dan adanya kombinasi sedikit gula dengan garam yang pas, daun pepaya singkong ini jadi lebih nikmat. Setiap gigitan daunnya terasa sekali bumbunya, jika ada bagian pindang tongkol tergigit, terasa bumbu pindangnya. Pindang juga tidak terlalu amis karena sudah digoreng setengah matang.

Daun pepayanya juga menjadi tidak terlalu pahit, malah tidak terasa pahit jika direvus dulu dengan daun singkong dan daun jambu batu.

Saya sudah mencoba resep versi saya ini berkali-kali. Istri dan mertua saya yang ada darah Manadonya  beserta keluarga lain yang sudah merasakan resep ini, mengacung 2 jempol.

Selamat mencoba, kalau ada yang membingungkan atau ada ide lain silahkan informasikan saya.

 

 

Next Newer Entries