Imami, mie ayam super, rasanya good marsogood

Mie adalah makanan yang terbuat dari tepung berbagai jenis tepung, air, telur dan garam. Rata-rata semua kalangan menyukai mie, baik  anak-anak, remaja, dewasa, dan  para manula sekalipun menyukai mie. Mie merupakan makanan pokok rakyat di Tiongkok. Menurut mas Wiki [Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Mi_(makanan)%5D mi atau mie adalah adonan tipis dan panjang yang telah digulung, dikeringkan, dan dimasak dalam air mendidih. Istilah ini juga merujuk kepada mi kering yang harus dimasak kembali dengan dicelupkan dalam air. Orang Italia, Tionghoa, dan Arab telah mengklaim bangsa mereka sebagai pencipta mi, meskipun tulisan tertua mengenai mi berasal dari Dinasti Han Timur, antara tahun 25 dan 220 Masehi. Pada Oktober 2005, mi tertua yang diperkirakan berusia 4.000 tahun ditemukan di Qinghai, Tiongkok.

Nah, untuk urusan mie, di Indonesia dikenal juga varian masakan yang disebut “mie ayam”, ini bukan mie ayam ala Chinese, tapi lebih kepada mie ayam ala “kampung”. Mungkin bumbu mie ayam ala Chinese yang divariasikan dan disesuaikan dengan lidah Indonesia-lah yang meyebabkan mie ini agak berbeda dan mendapat julukan kampung. Biasanya tukang mie ayam dengan gerobaknya yang berwarna biru atau hijau suka keliling kampung, kompleks, atau perumahan lainnya. Banyak juga yang sudah mulai mapan dan memiliki tempat “ngetem”.

Salah satu mie ayam yang saya favoritkan sampai sekarang [saya sudah mencoba berbagai mie ayam ala kampung sejak 24 tahun yang lalu] adalah Imami. Nama yang unik untuk sebuah merek mie ayam bukan? Imami, setahu saya, dulu sebelum singkatannya dihilangkan adalah “Iyeu Maem Mie” jadi disingkat dan lebih manis “Imami”. Saya juga tidak tahu mengapa dulu sang penjual memberi nama yang demikian. Kalau didengar menurut orang Sunda juga agak sedikit antik.

 

Imami, mulai beroperasi sejak tahun 1991, dari dulu sampai sekarang menempati lokasi yang sama, di Jl. Terusan Martanegara Bandung. Sebenarnya ada dua lokasi Imami, satu di Jl. Turangganya dan satu lagi yang tadi saya sebutkan. Untuk mencapainya mudah, patokannya BSM [Bandung Super Mall] depannya ada jalan [Turangga] masuk aja terus lalu lihat sebelah kanan. Kalau terus lagi sampai mentok, jalan Martanegara, belok kiri sekitar 20 meter lihat sebelah kiri.

Kali ini saya makan ditempat biasa saya makan di Terusan Martanegara. Mas Mujito, mengatakan biasanya setiap hari menghabiskan sekitar 17 kg mie telor. Untungnya mie telor ini bikinan sendiri, artinya mas Mujito sudah mempunyai alatnya, dan dijamin tidak menggunakan bahan pengawet. Mas Mujito, asli Purwokerto, adalah adik pendiri Imami yang sudah meninggal [saya lupa namanya].   

Kenapa sih mie ini yang jadi favorit saya? Ada beberapa alasan yang bisa saya kemukakan:

  • Porsinya super, tidak kira-kira banyaknya, saya saja sangat kenyang. Untuk yang terbiasa makan di tempat mie ayam lain, saya sarankan memesan ½ porsi saja. Harga per porsi Rp. 10000.
  • Mienya pas empuknya, tidak terlalu empuk dan tidak terlalu kenyal.
  • Topping ayamnya sangat enak, potongan dagingnya kecil-kecil, dan banyak, rasanyapun nikmat, antara asin dan manis seimbang.
  • Kuah topping ayamnya sering melimpah ruah [kalau kita minta]
  • Sayur sawinya juga dipotong kecil-kecil, tapi banyak.
  • Sambalnya mantap, pas betul pedasnya.
  • Yang jualnya ramah, senang diajak ngobrol.

 

Warung Imami buka mulai sekitar pukul 10.00 dan tutup paling lama pukul 20.00, kalau belum habis. Tempat ini pada jam-jam orang kelaparan berat selalu ramai dan penuh. Biasanya saya pesan mie 1 porsi, pakai kerupuk aci 1 buah, tambahkan sedikit saos tomat cabe, dan sedikit kecap, rasanya seperti di kampung banget, niiikmaat sekali…..

Makanan dengan nama aneh, kerupuk ala Bandung

Hari ini, ada teman saya datang ke kantor, untuk suatu keperluan. Yang menyenangkan adalah, dia membawa banyak oleh-oleh, aneka macam kerupuk. Kurang lebih ada 50 bungkus. Dalam sekejap, yang namanya kerupuk, untuk orang Bandung, adalah makanan yang sangat berharga, bagaikan emas perak, tanpa malu-malu atau berpura-pura basa-basi teman-teman di kantor saya memebersihkan semuanya dan hanya menyisakan kantong plastic kereknya saja. Tentunya saya sebagai orang yang bekerja di kementerian urusan masak dan  makan, tidak mau ketinggalan. Dan saya pun berhasil mengambil paling banyak J.

Kerupuk tersebut adalah:

  • Kerupuk Bondon: Kerupuk ini memang menggunakan nama bondon [Slank Sunda: wanita malam], saya juga tidak tahu kenapa, sekarang dikenal dengan nama gurilem. Saya kenal kerupuk ini, dulu sewaktu pertama pindah ke Bandung, di SMP banyak anak nyemilkerupuk ini, sampai 2-3 bungkus. Bentuknya seperti cendol digorenglah, dengan warna pucat atau merah karena cabe atau pewarna. Rasanya ya, asin gurih, nikmat dan tentu saja pedas betul. Kerupuk bondon ini masuk dalam top kerupuk yang digemari di Bandug. Menurut informasi yang belum tentu benar, katanya banyak di produksi di Banjaran dan Ciamis.
  • Kerupuk Seblak: Kerupuk yang bentuknya agak bulat tidak beraturan dan agak kecil, rasanya ada yang ikan atau udang, tapi yang pasti, agak mirip-mirip pedas sama gurihnya dengan kerupuk bondon.
  • Kerupuk Jengkol: Nah kalau yang satu ini sesuai dengan namanya yang ajaib, bahan dasarnya jelaslah menggunakan jengkol yang terkenal seantero jagad Indonesia. Biasanya kerupuk jengkol ini tidak pedas, asin gurih dan aroma jengkol yang kuat. Kalau kebanyakan menurut beberapa orang bisa jengkoleun.
  • Kerupuk Mie Turki: KErupuk ini dari namanya jelas berbentuk seperti mie, rasanya standar enak, asin gurih. Tapi nama Turkinya saya tidak tahu didapat karena apa, atau hanya sekedar judul saja.
  • Kerupuk Bakso Pedes: Nah yang satu ini terbuat dari bakso aci [kanji] diiris tipisdigoreng dan dicampur dengan bubuk cabe yang super pedas. Rasanya asin gurih, aroma bakso dan pedas.

 

Bagi orang Bandung, kerupuk sudah menjadi bagian budaya makan. Hampir semua cara makan menggunakan kerupuk,  dipakai untuk makan dengan nasi dan lauk lainnya. Makan bakso pakai kerupuk. Makan lotek pakai kerupuk. Makan rujak pakai kerupuk. Makan soto pakai kerupuk. Makan surabi pakai kerupuk.  Makan es pakai kerupuk. Apalagi ya, pokoknya banyak deh…..

 

Hanya sayangnya sekarang ini mencari kerupuk-kerupuk yang saya sebut diatas tidak semudah dulu, agak sulit, harus ke daerah pinggiran…

Ketupat Sayur Padang Bumbu Pical

Masakan Sumatera, bagi saya sudah tidak asing lagi. Sekalipun saya berdarah Jawa-Manado, saya cukup menggemari masakan Sumatera, khususnya masakan Padang. Ada banyak makanan khas Padang yang begitu populer seantero Indonesia, bahkan sampai ke manca negara, misalnya rendang dan gulai ayam. Yang lainnya cukup dikenal, yang lainnya mungkin kurang dikenal. Adea satu makanan khas Padang yang mengingatkan saya pada masa lalu, sewaktu saya tinggal di Sumatera [saya lahir di Banda Aceh], Ketupat Sayur Padang.

Mungkin anda yang belum tahu ketupat sayur Padang, akan bertanya, makanan seperti apa itu. Ketupat  sayur ini, pada dasarnya terdir dari ketupat yang dipotong-potong, lalu disiram sayur buncis dan nagka yang dimasak gulai, diberi telur rebus gulai dan kerupuk yang berwarna merah jambu. Tentu saja, pedas, jika tidak pedas, mungkin orang yang beli tidak akan suka.

 

Kali ini, saya mencoba ketupat sayur Padang ini, tapi yangmembedakan adalah ketupat sayur Padang ini menggunakan bumbu pical [tidak ada hubungan dengan petinju Indonesia berdarah Maluku ya…]. Semua bahan yang saya sebutkan di atas tadi semuanya ada lengkap, hanya bedanya ada tambahan bumbu pical, ketupat disiram dengan bumbu pical. Bumbu pical, bagi orang di Jawa sama dengan bumbu pecel hanya sudah dimasak dan agak encer serta pedas. Ini yang agak membedakan ketupat sayur ini dengan tempat lainnya.

Menurut pak Muhtar dan uni Uun, ketupat sayur Padang itu memang ada yang khas dengan tambahan bumbu pical, sehingga rasa gurihnya berpadu antara gurih santan gulain dengan gurih manis bumbu pical. Bagi saya ini sensai baru dan sangat menarik. Lidah dan mulut saya serasa menerima sesuatu yang unik tanpi sangat lezat, membuat tidak mau berhenti.  

 

Warung ketupat sayur Padang Bukit Tinggi ini sudah 3 tahun lamanya berjualan di Jl. Tubagus Ismail no. 1, di depan rumah makan Bukit Tinggi. Jam operasionalnya mulai jam 05.00  sampai paling telat jam 11.00. Pagi-pagi benar bukanya, Bandung yang dingin dengan ketupat sayur yang panas dan pedas…. Benar-benar nikmat.

Pak Muhtar menambahkan, kebanyakan pelangganya adalah para pendatang, karena di daerah Tubagus Ismail, banyak mahasiswa dari daerah lain yang menetap di situ. Hanya dengan Rp. 5000 saja kita sudah bisa menikmati ketupat sayur Padang Bukit Tinggi dengan bumbu pical, tidak terlalu pedas kok, bagi saya malah agak kurang rasa pedas.  

 

Kalau anda biasa bangun pagi, mau jalan-jalan ke daerah simpang Dago,  ketupat ini salah satu yang saya rekomendasikan.Sluurrp,nikmat….

Eksotisnya Roti Bumbu Bakar Bandung

 

Nama roti bumbu bakar bandung sepertinya sudah terkenal seantero jagad perjajanan.  Kalau kita sering jalan ke beberapa kota di Jawa maupun di luar jawa, kita akan sering menjumpai tulisan seperti ini “Roti Bumbu Bakar Asli Bandung”.

Pada dasarnya, roti bumbu bakar bandung ini, adalah roti tawar, baik besar maupun bulat memanjang, dengan olesan mentega, berbagai selai, taburan meises, keju, kornet, susu kental manis dan kemudian dibakar. Untuk membakarnya, dilakukan diatas lempengan khusus seperti yang ada di tukang martabak telur.

Di Bandung ada beberapa tempat yang menjual roti bumbu baker dengan masing-masing  ciri khasnya sendiri. Bahkan untuk merek tertentu menjualnya dengan gerobak-gerobak yang keliling di seantero Bandung.

Kalau, anda orang asli Bandung atau setidaknya sudah tinggal lama di Bandung, dan penggemar roti bakar,  tentunya roti bakar yang satu ini sudah tidak asing lagi. “Roti Bakar  234” asli Bandung, atau orang-orang lebih mengenalnya sebagai roti bakar Gang Kote, karena letaknya di mulut Gang Kote, Jl. Jend. Sudirman Bandung. Roti Bakar 234, mengingatkan saya pada salah satu merek sigaret, mungkin pemiliknya ingin rotinya seterkenal sigaret tersebut.

Menurut cerita, roti ini sudah lama, sejak jaman baheula-lah kata orang Sunda. Roti ini salah satu roti ala Jadul yang difavoritkan saya dan keluarga, terutama anak-anak saya. Yang membuat kami memilih roti ini jadi salah satu favorit adalah:

  • Rotinya, tidak terlalu kasar, tapi juga tidak terlalu lembut, cukuplah, tapi padat dan teksturnya enak kalau di gigit dan dikunyah.
  • Toppingnya, berbeda dengan di tempat lain, rasanya lebih mantap, lebih eank, baik selai meises, keju, ataupun kornetnya, menggunakan beberapa merek terkenal di Bandung. Selain itu tentunya melimpah ruah sampai tumpah, banjir….
  • Bakarnya, special, beda dengan tempat lain. Di sini roti dibakar dengan menggunakan bara arang, jadi aromanya jelas berbeda.
  • Kalau semau pilihan sudah disatukan kemudian dibakar, yang good masogood adalah rasanya. Menurut saya untuk tipikal roti gaya “Jadul”, ini yang paling TOP.

Waktu jualan roti Gang Kote ini juga pas banget dengan selera perut, mulai dari jam 15.00 sampai sehabisnya. Baisanya kalau lagi ramai sebelum jam 20.00 roti sudah habis.

Untuk yang mencari alternatip oleh-oleh atau jajanan lain di kota Bandung, saya merekomendasikan Roti Gang Kote ini. Lokasi tepatnya dimana? Mudah, kalau anda tahu Mesjid Agung Bandung, lurus tersu aja ke Barat, karena jalanya searah, setelah lampu merah Jl. Otto Iskandardinata, sekitar 20 meter di sebelah kiri ada gang, dan di mulut gang itulah, Roti akar 234 berada. Silahkan mencoba, jangan ragu memesan variasi campuran rasa yang bermacam-macam.

Nikmatnya Nasi Timbel Merah dengan Sambal Terasi dan Ulukuteug

Untuk orang Sunda, nasi timbel bukan barang yang aneh. Nasi timbel merupakan nasi yang di bungkus di dalam daun pisang. Bisa dari beras putih ataupun dari beras merah campur beras putih. Pembuatannya juga tidaklah sulit, nasi yang sudah matang dikipas, dimasukan ke dalam daun pisang dengan porsi tertentu, kemudian digulung, dikukus lagi dan selesailah kemudian dihidangkan. Biasanya nasi timbel disajikan dengan ayam, ikan, atau daging goreng, tahu, tempe goreng, ikan asin, sayur asem dan tentunya sambal terasi.

Nah, kali ini nasi timbelnya agak mirip-mirip, tapi tetap berbeda. Namanya nasi timbel Ibu Oneng [seperti tokoh sinetron TV aja]. Lokasinya terletak di jl. Citarum, seputaran mesjid Istiqomah dekat SMU Negeri 20 Bandung. Warungnya tendaan sih, tapi cukup bersih kok.

Tentu saja makanannya yang menjadi favorit bagi saya. Selain timbel nasi putih, di sini juga tersedia timbel nasi merah. Bentuknya tidak lonjong seperti silinder pada umumnya, bentuknya seperti bulatan/kepalan, ukurannya pun cukup sekitar satu kepal orang dewasa. Nasinya padat, dan mengenyangkan.

Di warung Bu Oneng ini, tersedia berbagai lauk, mulai dari ikan mas, mujaer, bawal, daging ayam, jeroan sapi, sate usus dan ati ampela, aneka pepes ikan, usus, ayam dan tahu, tentu saja tidak ketinggalan tahu dan tempe goreng. Sambalnya hanya tersedia dua macam saja: sambal cabai merah terasi dan Ulukuteug [bener tidak ya cara menulisnya]. Yang membedakan dari tempat nasi timbel lainnya adalah sambal terasi di sini agak encer dan agak manis. Tidak terlalu pedas. Sambal ulukuteug: sambal yang terbuat dari oncom yang dicampur dengan leunca [sebangsa terong-terongan ukuran lebih kecil sedikit dari kelereng dan terasa agak pahit]. Kedua sambal ini disajikan bersama dalam menu masakan.

Yang menjadi favorit saya setiapmakan di tempat ini adalah nasi merah timbel, lauknya ikan mas goreng atau pepes ikan mas yang dipanaskan dengan digoreng sebentar, ditambah dua buah tahu goreng. Saya suka ikan mas,karena rasa dagingnya yang gurih dan enak, ditambah campuran dua sambal yang karakternya berbeda dicampur dengan nasih merah, dilidah betul-betul merupakan campuran yang nikmat.

Untuk harga, tidaklah terlalu mahal, nasi timbel dengan ikan mas goreng dan dua buah tahu plus lalapan dan teh tawar panas, anda cukup mengeluarkan uang sebersar Rp. 9000 saja.

Di tempat ini anda tidak perlu kuatir mengantri, karena walaupun cukup ramai, tetap mudah dan cepat untuk bisa dilayani. Yang perlu diperhatikan mereka cepat habis karena lebih banyak dari pesanan. Misalnya sekali pesan 50 porsi.

Pagi hari di warung ini biasanya kang Ayeng Samsudin melayani kita dengan tiga orang karyawannya,sedangkan ibu Oneng biasanya datang sekitar jam 8 atau 9. Warung ini buka dari jam 07.00 sampai jam 15.00, sering juga sebelum jam tersebut sudah habis.

Mari, silahkan mencoba, kaki lima warung tenda, warung nasi timbel Ibu Oneng…..

Bubur Ayam Handayani ~ Setiabudi Bandung

MAs Gunawan

Ada syarat bubur ayam layak dikatakan enak [in my humble opinion ya]: panas, terasa kaldu ayamnya, tidak terlalu kental, mungkin agak encer, tapi tidak terlalu encer juga, dan topping yang pas serta melimpah ruah.
Nah di Bandung, kota tanah air beta, ada banyak bubur yang memenuhi syarat yang saya sebutkan tadi. Salah satunya Bubur Ayam Handayani, letaknya di Jl. Setiabudi, dari Setiabudi Supermarket, kebawah sedikit, di depan Sosis Jerman Bratwurst. Saya cukup sering makan di tempat ini, terutama kalau hari kerja, sekalian ke kantor yang berada di sekitar TKP. Dulu, tempat ini tidak terlalu ramai, sekarang wah, ramai sekali, kadang-kadang sampai antri. Jangan kuatir, pelayanan mas Gunawan [onwner, sekaligus yang melayani] sangat baik, cepat dan sangat bisa dihandalkan. Sesuai dengan namanya Handayani, berarti “memberikan dorongan/kekuatan” apa diambil dari Tut Wuri Handayani ya mas Gunawan? Atau bisa juga berarti”Handal Dalam Melayani”. Mas Gunawan yang katanya asli Wonosari, Gunung Kidul, Jogja ini melayani pelanggannya dibantu sang istri dan dua orang lainnya. Selain berjualan bubur dia juga bekerja sebagai sekuriti dan pembantu umu di klinik sebelah Sosis Jerman Bratwurst berada.
Untuk buburnya, ini yang paling penting. Bagi saya bubur di tempat ini panasnya mantap, sehingga disantap di pagi hari yang dingin seperti di Bandung ini sangat cocok. Yang tidak kalah penting adalah toppingnya. Sekilas topping buburnya mirip dengan di tempat lain, yang membedakan banyaknya. Ayam suwir, merica bubuk, cakue, kacang kedele goreng, irisan telur, bawang dan kelapa goreng, irisan daun bawang dan yang menarik ada tambahan dua buah sate jeroan ayam yang sudah direbus dengan bumbu. Kemudian bubur beserta toppingnya ini disajikan bersama dengan semangkuk kerupuk, dan air teh tawar panas. Nikmat sekali, apalagi saya menyukai pedas, sambalnya di sini super pedas dan menambah aroma, saya pikir sambalnya juga dimasak pakai bumbu bawang merah dan bawang putih. Saya biasanya memesan bubur tanpa kecap manis, cukup kecap asin saja tentunya plus topping dan sambal super pedasnya. Bagi saya bubur ini salah bubur ala tradisonal tempo dulu yang menjadi favorit saya.

Silahkan mencoba, selamat menikmati suasanya pagi, di pinggir jalan turunan Setiabudi, diantara deru motor dan mobil aktifitas pagi hari. Di antara antrian dan ramainya pembeli. Suasana kuliner kaki lima pagi ala Bandung. Suasana khas yang berbeda dengan kota lainnya. Pesan saya, hati-hati biasanya sebelum jam 09.00 bubur sudah habis alias tutup.

Angkringan Lik Man – Menyeruput Kopi Joss yang melegenda

Angkringan, ini yang harus anda coba kalau anda pergi ke Jogja. Angkringan ini tempat bincang santai berbagai kalangan, diamana batasan itu menjadi hilang. Di Jogja, mencari angkringan tidaklah sulit. Di gang-gang, sudut jalan akan selalu ditemukan angkringan. Biasanya kalau di angkringan bisa ngobrol sampai puas, sampai menuju ambang pagi.

Nah, salah satu angkringan jajaran topnya di Jogja, angkringan Lik Man di utara Stasiun Tugu Jogja. Mencapainya, mudah, kalau anda dari Malioboro, jalan terus ke utara, lewati rel kereta api, lewati gerbang stasiun Tugu, lalu ada jalan sebelah kiri, belok, pas dibelokan itu ada angkring Lik Man ini. Konon ceritanya, angkringan Lik Man ini berdiri sejak tahun 1968. Angkringan Lik Man memang sesuai namanya menggunakan angkringan [pikulan bamboo yang melengkung] dengan dua kotak di kanan dan kirinya. Biasanya sudah mulai jualan dari jam 15.00 sampai pagi, katanya sih begitu. Kalau kita lihat warungnya sangat sederhana, bersahaja…  dulu saya tidak menyangka kalau ini tempat yang melegenda.

Nah diangkringan ini Lik Man duduk di tengah, Sementara di kiri – kanannya ada tumpukan makanan dan anglo dengan bara arang. Menunya: sego kucing, nasi sekepal, berlauk sambal dengan secuil bandeng goreng, oseng tempe, atau bihun. Tempe mendoan. Tahu dan tahu bacem. Sate usus. Sate kikil. Cakar. Dan lainnya. Yang menarik di sini minumannya. Selain teh “nasgithel” [bukan wasgithel] panas, legit, kenthel, ada kopi yang disebut “Kopi Joss”. Ini tidak ada hubungannya dengan minuman kesehatan itu ya. Kopi Joss itu kopi tubruk panas, lalu di cemplungi potongan arang yang membara, bunyinya joss….   Jadi dinamakan Kopi Joss.

Dulu sewaktu masih sering main ke Jogja, hampir tiap malam saya pasti mampir ke angkringan Lik Man ini. Dengan teman-teman staff di Jogja, makan bareng, “rame-rame”. Makan di angkringan kita tidak perlu takut kehabisan uang. Saya beberapa kali makan bersama teman-teman staff di Jogja, sekitar sepuluh orang, dan tidak pernah menghabiskan lebih dari Rp. 50000. Ada yang bilang angkringan Lik Man ini salah satu legenda kuliner-nya Jogja…..  Jika anda sempat mapir, anda bisa makan di kursi depan dan samping Lik Man duduk, atau menggunakan tikar duduk bersila di pinggir jalan, makan gelap-gelapan, mobil dan motor seliweran, suasananya Jogja… yang tidak bisa ditemukan di tempat lain….  [kok mendadak inget lagu Kla, Yogyakarta ya….]

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila